Selasa, 12 Maret 2013

MELIHAT FAKTOR KEMIRINGAN TERHADAP LAJU PEMBAKARAN



Alat dan bahan : a. Lidi   b. Korek api
Prosedur kerja :
Ukur panjang lidi sebelum dibakar dari ujung besi kemudian bakar catat waktu sampai api mati kemudian ukur kembali tunggal lidi, Putar alat dari 00 sampai 3150 (kelipatan 450). Tiap derajat diulang sebanyak 3 tali.
Derajat
Tinggi lidi
Waktu
sebelum
sesudah
0
45
90
135
180
225
270
315
10.5, 10.5, 10.5
10.5, 10.5, 10.5
10.5, 10.5, 10.5
10.5, 10.5, 10.5
10.5, 10.5, 10.5
10.5, 10.5, 10.5
10.5, 10.5, 10.5
10.5, 10.5, 10.5

8.7, 8.8, 8.9
9.8, 9.6, 9.5
8.5, 9.5, 9.4
9.1, 9,  8.8
8.7, 0, 2
5.2, 0 , 0
7.5, 7.7, 8
8.8, 9.1, 8.5
5.6, 5.37, 6.04
4.36, 3.89, 6.34
7.56, 4.04, 6.64
8.13, 7.54, 6.31
6.75, 7.54, 6.31
6.75, 54.41, 36.14
33.63, 47.02, 51.72
10.40, 7.83, 6.86
 Pembahasan :
Api adalah oksidasi cepat terhadap suatu material dalam proses pembakaran kimiawi, yang menghasilkan panas, cahaya, dan berbagai hasil reaksi kimia lainnya. Proses oksidasi yang lebih lambat seperti pengkaratan atau pencernaan tidak termasuk dalam definisi tersebut. Api berupa energi berintensitas yang bervariasi dan memiliki bentuk cahaya (dengan panjang gelombang juga di luar spektrum visual sehingga dapat tidak terlihat oleh mata manusia) dan panas yang juga dapat menimbulkan asap (Suratmo 1985).
Api (warnanya-dipengaruhi oleh intensitas cahayanya) biasanya digunakan untuk menentukan apakah suatu bahan bakar termasuk dalam tingkatan kombusi sehingga dapat digunakan untuk keperluan manusia (misal digunakan sebagai bahan bakar api unggun, perapian atau kompor gas) atau tingkat pembakar yang keras yang bersifat sangat penghancur, membakar dengan tak terkendali sehingga merugikan manusia (misal, pembakaran pada gedung, hutan, dan sebagainya) (Chandler et all 1983)
Pada lahan yang miring nyala api akan mendekati bahan bakar yang ada di atasnya dan akan bergerak lebih cepat dibanding lahan yang datar. Tanaman akan menjadi panas sebelum api menyentuhnya, dan akan lebih mudah untuk terbakar. Pada kelerengan yang terjal akan lebih cepat api menyebar dan akan lebih sulit untuk dikontrol. Dalam membuat sekat bakar untuk di atas lereng harus lebih lebar dibanding jika membuat di bawah lereng (Saharjo 2000).
Waktu mempengaruhi kebakaran hutan yaitu melalui proses pemanasan bahan bakar yang dipengaruhi oleh radiasi matahari yang berfluktuasi dalam sehari semalam. Fluktuasi suhu ini berpengaruh terhadap kemudahan terjadinya pembakaran dimana suhu maksimum dicapai pada tengah hari sedangkan suhu minimum tercapai pada saat menjelang matahari terbenam dan dini hari (Saharjo 2003).
Dari hasil praktikum dihasilkan diukur kemiringan, panjang sebelum dan sesudah pembakaran, kemudian diukur juga waktunay. Panjang lidi sebelum pembakaran adalah 10.5 cm dengan 3 kali pengulangan. Pada 0 derajat didapatkan panjang sesudahnya 8.7, 8.8, 8.9 waktunya 5.6, 5.37, 6.04, pada 45 panjangnya 8.7, 8.8, 8.9 waktunya 5.6, 5.37, 6.04, pada 90 panjangnya 8.5, 9.5, 9.4 waktunya 7.56, 4.04, 6.64, pada 135 panjangnya 9.1, 9,  8.8 waktunya 8.13, 7.54, 6.31, pada 180 pangjangnya 8.7, 0, 2 waktunya 6.75, 7.54, 6.31, pada 225 panjangnya 5.2, 0 , 0 waktunya 6.75, 54.41, 36.14, pada 270 panjangnya 7.5, 7.7, 8 waktunya 33.63, 47.02, 51.72, pada 315 panjangnya 8.8, 9.1, 8.5 waktunya 10.40, 7.83, 6.86. Sehingga bisa disimpulkan bahwa kemiringan mempengaruhi cepat lambatnya penjalaran Api, namun waktunya semakin lama karena panjang lidi yang terbakar semakin panjang dan luas.

Kesimpulan
Semakin miring tempat sumber api maka semakin luas daerah yang terbakar. namun waktu yang dibutuhkan semakin lama.
Daftar Pustaka
Chandler, C., D. Cheney., P. Thomas., L. Trabaud., and D. Williams. 1983.Fire in Forestry: Forest Fire Behaviour and Effects. Volume I. John Wiley and Sons. New York. 450.
Saharjo, B. H. 2000. Penyiapan Lahan untuk Pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI). Laboratorium Kebakaran Hutan dan Lahan. Fakultas Kehutanan. IPB. Bogor.
Saharjo, B.H. 2003. Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Yang Lestari Perlukah Dilakukan. Laboratorium Kebakaran Hutan dan Lahan. Departemen Silvikultur. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Suratmo, F.G. 1985. Ilmu Perlindungan Hutan. Bagian Perlindungan Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.


by : luqman Setiadi










Tidak ada komentar:

Posting Komentar